Life StyleNasionalNews

Neng Lia Istifhama : Perempuan dinilai sebagai makhluk kuat, setujukah anda.!!?

SURABAYA || HALLOJATIMNEWS – Di masa digitalisasi sekarang ini, semakin banyak figur perempuan yang memenuhi jagat raya media sosial. Kesetaraan gender bahkan seperti tidak lagi menunjukkan diskriminasi pada perempuan saja. Ada apa sebenarnya ?

“Kalau bicara diskrimanasi gender dan KDRT, sekarang laki-laki juga ada kan yang merasa jadi korban?”, Ujar Lia Istifhama.

Nah. Apa yang terjadi sebenarnya?
“Jadi gini, Memang ini sudah implikasi ketika banyak perubahan dalam tataran sosial. Banyak perempuan yang kemudian menjadi alpha female. Yang memiliki pengaruh lebih dari laki-laki yang ada di sekitarnya. Bukan hanya soal hubungan perkawinan lho ya, bisa jadi pekerjaan, jabatan politis dan sebagainya.

Hal-hal kayak gitu bisa jadi menunjukkan perempuan seakan-akan terlihat super kuat, super hebat sehingga laki-laki disekitarnya merasa terdiskriminasi. Yah gimana yah, memang harus diakui lah, perempuan itu makhluk kuat. Kalau bicara soal kekerasan, kita jangan hanya bicara fisik ya. Tapi psikis juga.

Perempuan itu kayak mudah banget jadi bahan cibiran. Yang dibilang klemrak klemrek lah, atau lainnya. Hanya karena perempuan memang dari sononya kalem. Nah, itu kan namanya juga kekerasan psikis, karena hinaan. Tapi buktinya, tidak menghambat para perempuan untuk maju kan? Malah banyak lho, pemimpin perempuan sekarang. Gak usah jauh-jauh, kita saja, walikota dan gubernur sama-sama perempuan.

Ini keren sekali, menunjukkan bahwa perempuan memang memiliki potensi sama dengan laki-laki untuk menjadi pemimpin publik. Kalau bicara kasus kekerasan, memang perempuan yang menjadi korban kekerasan apapun bentuknya, memiliki resiliensi yang cepat. Korban jika perempuan, cepat pulih dan bangkit dari traumatis. Ini lho hebatnya perempuan, makluk yang kuat. Jadi ayo para perempuan, sama-sama bergandengan tangan untuk terus melawan perbuatan kekerasan dan sama-sama menjaga lingkungan sosial kita yang aman.

Ayo kita cegah pelecehan seksual apapun bentuknya dan kita pun harus turut melawan nyinyiran yang menghina perempuan, seperti body shaming, dan sebagainya. Perempuan yang sejati itu yang tegar, kuat, tidak lamis dan tidak nyinyir. Lamis itu istilah Suroboyo ya, artinya mulut sok manis yang tujuannya ngatok”, ujar Ning Lia ketika dikonfirmasi lewat seluler pribadinya. @ Red

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Kontak Redaksi